Kisah Deslya, Berkat Kado Sepatu Sang Ayah Raih Tiga Emas Beruntun POMNAS Hingga Dua Perunggu SEA Games

Deslya juga menjadi atlet Kun Bukator di SEA Games 2023

Di belakang setiap putri yang hebat ada ayah yang benar-benar luar biasa. Seuntai kalimat itulah yang dikenang oleh Deslya Anggraini, salah satu talenta berprestasi di bidang olahraga. Berkat kado sepatu di hari ulang tahun dari almarhum ayahnya, Suparno seorang sopir angkot, Deslya mampu mewujudkan mimpinya menjadi atlet Pencak Silat dan Kun Bukator Nasional. Berbagai prestasi seperti tiga medali emas Pekan Olahraga Mahasiswa Nasional (POMNAS) hingga medali perunggu di SEA Games berhasil ia torehkan. Baginya memperjuangkan kemenangan adalah bentuk baktinya kepada orang tua dan Indonesia. 

Foto Keluarga Deslya

Setelah beberapa kali mengikuti latihan, Deslya tidak bisa hadir latihan karena kedua orang tuanya masih membenahi rumah yang baru ditempatinya. Di waktu itu juga, pelatih Pencak Silat sekolah langsung mencari Deslya dan berharap orang tuanya mendukung penuh putrinya di bidang olahraga tersebut. “Pelatih mencari nama, kelas, dan alamat rumah saya. Pelatih saya berkomunikasi langsung ke orang tua saya agar saya di-support untuk terus mengikuti latihan Pencak Silat dengan alasan saya memiliki bakat kala itu,” jelas Deslya. 

Perkataan pelatihnya pun terwujud. Di tahun 2008 Desyla berhasil menorehkan prestasi pertamanya dengan meraih medali emas di ajang Olimpiade Olahraga Siswa Nasional (O2SN) jenjang SD pada cabor Pencak Silat. Momen itulah yang menjadi langkah awal Deslya untuk menjadi atlet tingkat nasional. 

Anak tunggal ini menceritakan awal perjalanan prestasinya. Ia mengenal olahraga Pencak Silat semenjak bersekolah di SD Negeri 08 Tanjung Barat Pagi DKI Jakarta melalui ekstrakurikuler. “Saat kelas 3 SD saya pindah ke sekolah baru. Untuk pertama kalinya saya mencoba untuk ikut teman saya mengikuti ekstrakurikuler Pencak Silat,” ungkapnya. 

Konsistensi menekuni Pencak Silat terus ia lakoni. Namun, pendidikan tetap ia usahakan. Tahun 2015, ia melanjutkan studi di Politeknik Negeri Jakarta (PNJ) di program studi Administrasi Bisnis Terapan.  Pada tahun yang sama, ia pun menyabet medali emas di ajang POMNAS Aceh. “Di awal semester saya hampir di DO karena tidak bisa mengikuti perkuliahan dengan baik karena padatnya jadwal latihan pagi dan sore. Jarak Depok dan tempat latihan di Rawamangun tidak menurunkan semangat saya. Alhamdulillah akhirnya mendapat medali emas,” cerita Deslya.

Tak tanggung-tanggung, Prestasi beruntun ia raih di ajang POMNAS. Tiga medali emas ia torehkan di POMNAS Aceh tahun 2015, POMNAS Makassar tahun 2017, dan POMNAS Jakarta tahun 2019. Ia  lanjut menceritakan, momen mengikuti POMNAS terakhirnya di tahun 2019 bertepatan dengan hari wisudanya. Deslya mencoba dengan segala usaha untuk bisa mengikuti wisuda bersama kedua orang tuanya.  Dengan usaha dan doanya, jalannya meraih prestasi dan mendapat gelar sarjana akhirnya terwujud. “Alhamdulillah setelah penyisihan jadwal pertandingan berubah dan di tanggal tersebut saya diizinkan untuk wisudah,” ujarnya. 

“Setelah selesai wisuda saya langsung bergegas kembali ke GOR pertandingan untuk beristirahat karena besok harus main final. Keesokan harinya, waktunya saya main kategori Tunggal Putri Dan alhamdulillah saya bisa mendapatkan hasil terbaik emas POMNAS ketiga saya dan Mahasiswa Berprestasi Non Akademik. Alhamdulillah bisa saya dapatkan dalam waktu yang bersamaan,” imbuhnya.  

Perjalanan prestasi Deslya terus berlanjut. Deslya berkesempatan untuk mengikuti SEA Games Kamboja 2023 pada cabang olahraga (cabor) Kun Bokator. Sebuah pengalaman baru untuk Deslya karena Kun Bokator merupakan cabor baru yang dipertandingkan di SEA Games dan cabor tradisional asal Kamboja. Dalam waktu tujuh bulan ia mempelajari dan berlatih cabor tersebut hingga meraih dua medali perunggu. 

“Saya berlatih dibantu oleh dua pelatih dari Kamboja dan satu pelatih dari Indonesia. Saya mengikuti dua kategori yaitu, Women’s Single Bamboo Shield dan Miced 1 Women Defence Against 2 Men. Alhamdulillah mendapatkan hasil yang cukup memuaskan 2 medali perunggu untuk dua kategori tersebut,” ucapnya.

Deslya saat meraih medali Perunggu cabor Kun BUkator di SEA Games Kamboja 2023
Deslya saat meraih medali Emas cabor Pencak Silat di POMNAS Makassar tahun 2017
Deslya saat meraih medali Emas cabor Pencak Silat di POMNAS Jakarta tahun 2019

Adapun prestasi-prestasi yang telah dicetak oleh Deslya yaitu, Medali Emas Olimpiade Olahraga Siswa Nasional (O2SN) jenjang SD cabor Pencak Silat, Mendapat kesempatan bersekolah di SMP dan SMAN Ragunan Jakarta tanpa tes, Medali Perak Pekan Olahraga Pelajar Nasional (POPNAS) Riau cabor Pencak Silat Tahun 2011, Medali Perak Pekan Olahraga Pelajar Nasional (POPNAS) Jakarta cabor Pencak Silat Tahun 2013, Medali Emas POMNAS Aceh cabor Pencak Silat Tahun 2015, Medali Emas POMNAS Makassar cabor Pencak Silat Tahun 2017, Medali Emas POMNAS Jakarta cabor Pencak Silat Tahun 2019, Medali Emas ASEAN University Games (AUG) Thailand cabor Pencak Silat Tahun 2022, Medali Perunggu nomor Women’s Single Bamboo Shield SEA Games Kamboja 2023, dan Medali Perunggu nomor Mixed 1 Women Defence Against 2 Men SEA Games Kamboja 2023. 

Di balik capaian prestasi Deslya, ada kisah mengharukan. Ketika semangat membara menekuni Pencak Silat, sepatu Deslya yang digunakan saat latihan tidak sesuai sehingga mengalami sakit pada kakinya. Hal itu pun diketahui oleh ayahnya. Walaupun bekerja sebagai seorang sopir angkot, ayah Deslya memahami dan berusaha memperjuangkan keinginan yang ada di dalam hati anaknya tersebut. Di hari ulang tahunnya, ayahnya pun memberikan kado sepatu kepada putrinya itu. “Aku tidak pernah meminta. Semua keinginanku dan kebutuhanku benar-benar aku usahakan sendiri karena sejak dulu aku selalu melihat usaha papahku yang begitu keras untuk memenuhi semua kebutuhan aku,” kata Deslya. 

“Sampai pada akhirnya setelah aku pulang dari Kamboja papahku tiba-tiba mengeluh sakit di bagian perutnya, kami bawa papah ku ke UGD dan dari sejak itu kesadaran papahku menurun. Kodarullah papahku berpulang pada tanggal 12 juni 2023,” sambungnya.. 

Perjuangan Deslya untuk berprestasi di bidang olahraga Pencak Silat ia niatkan demi membahagiakan orang-orang terdekatnya. “Aku bersyukur sudah bisa membahagiakan, berbakti, dan memuliakannya hingga akhir hidupnya. Sekarang tugasku terus berjuang demi mamah. Memperjuangkan kemenangan demi kemenangan selanjutnya,” harapnya. 

Di akhir kisahnya, Deslya berpesan kepada seluruh Sobat Prestasi untuk selalu semangat dan berusaha. “Selama kita masih terus bersembunyi dibalik alasan maka kita tidak akan bisa merubah masa depan. Usaha yang keras kelak terbayar pantas,” pesan Deslya. (Febri)

Laman: https://pusatprestasinasional.kemdikbud.go.id/ 

Instagram: @puspresnas

Twitter: @puspresnas

Tiktok: @puspresnas

Youtube: Pusat Prestasi Nasional

Facebook: Pusat Prestasi Nasional

Email: puspresnas@kemdikbud.go.id 

#MerdekaBelajar #MerdekaBerprestasi

#Puspresnas #PusatPrestasiNasional

#JujurItuJuara

#BerprestasiLebihHebat

Sumber: Siaran Pers Pusat Prestasi Nasional, Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Nomor: 185/Sipers/11/2023